H

20130515-153254.jpg

Advertisements

Mama ke kattor kerja. Sama teman teman Mama

20130515-151959.jpg

Bi/Perdagangan
6/5/2013
Bisnis Indonesia

Revitalisasi Pasar
Mengembalikan Kemasyuran Kota Marabahan

Maria Y. Benyamin
maria.benyamin@bisnis.co.id

Matahari pagi di Kota Marabahan masih malu-malu menampakkan batang hidungnya. Namun, suasana panas sudah terasa menyengat. Pada sebuah bangunan bertingkat dengan dominasi warna putih dan biru, tampak para pedagang dengan senyum tersungging dari bibirnya.

Sebagian kios di gedung itu sudah terisi penuh dengan barang dagangan. Sebagiannya masih dalam tahap berbenah, sehingga banyak barang yang masih berceceran sana-sini. Namun, ada juga yang masih kosong, tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Total kios di bangunan itu mencapai 96 buah. Kios-kios yang menempati bangunan putih biru itu menjual beragam produk, mulai dari sembako, pakaian, alas kaki, hingga elektronik.

Selain pedagang kios, ada juga puluhan pedagang los di depan bangunan itu. Jumlahnya kurang lebih 60 unit. Ada beberapa tukang cukur, penjual obat-obatan, pedagang buah, hingga pedagang kelontong.

Semuanya menjadi pemandangan baru di Pasar Baru Marabahan, Selasa (7/5) pagi. Bau cat yang masih tercium di tempat itu sepertinya bisa menceritakan kepada pengunjungnya, bahwa gedung itu baru selesai berbenah.

Pasar Baru Marabahan terletak di Kota Marabahan, ibukota Kabupaten Barito Kuala yang berlokasi 48 km dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Melirik sejarah, pasar ini dibangun pada 1972 di atas lahan seluas 4.072 m2. Letaknya sangat strategis karena berada pada di jantung Kota Marabahan dan di persimpangan tiga Sungai Barito dan Sungai Nagara yang menghubungkan tiga daerah yaitu Hulu Barito (Provinsi Kalteng), Margasari, dan Banjarmasin (Provinsi Kalsel).

Ratusan tahun silam, Marabahan telah menjadi bandar dagang Kerajaan Daha yang merupakan tempat jual beli hasil alam Dayak Siang dan Dayak Murung, di antaranya karet, damar, rotan, dan sarang burung. Pembelinya pun datang dari berbagai penjuru dunia.

Marabahan setidaknya pernah menorehkan sejarah sebagai pengekspor produk tikar purun. Menurut Bupati Barito Kuala Hasanuddin Murad, antara 1916 hingga 1922, berdasarkan dokumentasi bersejarah di perpustakaan asing, Marabahan telah mengekspor belasan juta tikar purun. Masa keemasannya yakni pada 1920 di mana Marabahan berhasil mengekspor 13 juta lembar tikar purun senilai 380.000 gulden.

Masih ada sederet cerita kesuksesan Marabahan pada masa lalunya. Catatan lainnya mengungkapkan Marabahan telah menjadi bandar dagang bagi ekspor impor dari Kalimantan dengan pasar global. Dibandingkan dengan distrik lainnya, Marabahan tercatat sebagai distrik yang paling makmur dari Zuid Borneo. Puncaknya pada 1930-an ketika harga karet melambung. Namun, itu adalah cerita masa lalu. Pesona Marabahan yang mahsyur dulunya itu, bisa dibilang hanya tinggal cerita.

Selasa, kemarin, menjadi hari yang bersejarah bagi Kota Marabahan karena merupakan awal kelahiran baru ‘jantung’ ekonomi Kota Marabahan. Melalui Program Revitalisasi Pasar Tradisional yang digagas Kementerian Perdagangan, Pasar Baru Marabahan berubah wajah. Upaya revitalisasi ini tak lain tak bukan adalah salah satu upaya mengembalikan kejayaan masa lalu Marabahan.

Seperti diketahui, Program Revitalisasi Pasar Tradisional sendiri sudah berjalan sejak 2011 dan kini telah memasuki tahun ketiganya. Sepanjang periode tersebut, Kemendag tercatat telah merevitalisasi 447 unit pasar tradisional yang terdiri dari 53 unit pasar percontohan dan 394 unit pasar non percontohan. Pasar Baru Marabahan adalah salah satu dari 53 unit pasar percontohan yang masuk dalam program tersebut.

Pada mulanya, program tersebut diluncurkan dalam rangka meningkatkan daya saing dan posisi tawar pasar tradisional di tengah gempuran pertumbuhan toko moderen yang cukup pesat. Tujuan revitalisasi juga tak lepas dari perkembangan konsumen yang kian menuntut, mulai dari tempat berbelanja yang nyaman, hingga kualitas produk yang dipasarkan.

Di tengah tuntutan itu dan ancaman menjamurnya toko moderen, upaya revitalisasi menjadi suatu keharusan, jika pasar tradisional tidak ingin ditinggalkan karena kerap dekat dengan kesan kumuh, bau, becek, dan tak berkualitas.

Keberhasilan program tersebut setidaknya dapat dilihat dari perbaikan kinerja dan kuantitas pedagang di masing-masing pasar tradisional. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja 10 pasar percontohan yang dibangun pada 2011, tercatat omzet transaksi secara bertahap mengalami peningkatan rata-rata sebesar 33%-85% dibandingkan denga omzet yang berhasil diraup sebelum direvitalisasi.

“Omzetnya antara satu pasar dengan pasar lainnya. Ada yang meningkat drastis sampai 80%, ada juga yang hanya di atas 30%. Yang pasti, ada peningkatan omzet dibandingkan dengan sebelumnya,” tutur Bayu.

bupati

barito kuala, daerah agragris..
kabuaten penganga ketahanan pangand i kalsel
pusat distribusi kayu olahan

bergesernya moda transportasi dari air ke darat.. dampaknya aktivitas berkurang… yang searang berlayar tinggal tongkang2 batubara.
mengembalikan marabahan

pembangunan jalan, marabahan menuju kapuas
upaya serius menjadikan marabahan sebagai pusat ekonomi

pabrik cpo 3 pembangunan
dan peauhan kuhusus batu bara, memicu aktivitas perekonoian..

penghasil 70.000 ton jeruk

Bayu krisnhamurthi: penghargaan untuk
Pasar tertib ukur, pasar marabahan
Semua timbangan alat ukur yang digunakn din pasar ini sudah ikut ketentuan berlaku

Secraa simbol memberikan timnangan …

Duayang saya dengar: an

Louiza zaki moza zeeva

20130515-151653.jpg

Aku

20130515-151430.jpg

Jkl.

20130515-151352.jpg

FSII gains popularity

FORUM Solomon Islands International (FSII) was set up in 2010 through the social media network FACEBOOK.

The FSII is one of the national advocacy body representing the ordinary Solomon Islanders, to fight for justice, equality and equal participation of the citizens of this country in matters pertaining to the development of this country.
The FSII page since its creation attracted a lot of membership of Solomon Islands citizens (both genders – scholars, academics, youths, working class, civil society etc) who share constructive contributions to combat corruption and improve well being in the country.

Market in Honiara. By rapidtravelchai.

It had got its fair share of challenges where at one stage a group of people demanded compensation from its office for alledged allegation.

Despite this setback, the Forum still continue to operate with its aim to implement its programme next year.

The Forum’s president, Redley Raramo is currently studying community development in Melbourne University in Australia.

Raramo believes this Forum is one way of addressing the underlying problems in the country.

 

Social Media in PNG and the way forward

Social Media maybe new to Papua New Guinea  but  the rest of the world are already into it

PNG is slowly picking up on the use of internet but it is amazing to note that  the number of users on social media such as Facebook has grown significantly in recent years.

Meanwhile, traditional media such as print, radio and televesion  have also realised the imortance of using are also going online because the information going to their audience is fast and easy to access anytime, anywhere.

PNG’s oldest Newspaper, Post-Courier has also go online  to give fast and updated information on what’s happening right across PNG and the region.

You can check out latest news happening in PNG on Post Courier online.

It also gives our readers fast and easy access to our news online and its updated daily.

At Post-Courier we recently launched our digital media called Post-Courier Live.

Digicel customers can subscribe to our news pages by getting the next day’s news headline texted to their cell phones.

Most journalists in PNG are yet to grasp the idea of social media in journalism such as blogging.

The two top blogs in PNG are Masalai blog and another by a prominent journalist.

Malum Nalu, Business Editor with The National Newspaper in Port Moresby   runs his own blog and provides updates on news events happening around the PNG and is updated daily.

However, the main challenge for PNG, is the high cost of using internet due to lack of available  infrastructure.

The Governmet  through the  National Information Communication Technology Authority (NICTA) with the country’s Telecommunication company, Telikom are working hard to address this issue to make internet cheap and accessible to all.

We’re hoping that  by 2015, at least  50 percent of Papua New Guinea would have access to interent.

how social media works by phab